Mommy Bear’s Morning Thoughts: Family Always Comes First (Bilingual)

I woke up at 5 as per usual, my body alarm is finally back to its normal time! For the past 2 weeks after getting back I still woke up at 4am, even though my jet-lag was gone. It was a little bit too early. I always go to bed quite early, around 9:30 or 10 PM, except last night, which was maybe around 11 PM. We came back home a bit late from my brother’s house, we arrived home around 10:30 PM. We had quality family time: yesterday was my brother’s online graduation. He has just completed his masters, and received MARS (Magister Administasi Rumah Sakit) to follow his dentist title. As he owns his own dentist clinics, my not-so-little-brother-anymore wanted to master hospital management, so he could focus on managing his clinics that he built from zero. Additionally, one of the main reasons he took MARS title was because he wants to have at least one of my Dad’s titles - our late Dad was a doctor. The other thing is he also got a cum-laude again, just like our dad. Sorry, if it sounds a little bit of showing off. I’m just nothing but a proud big sister! So happy for him! On the other hand, Izzy was so happy too, as she got to meet and play with all her cousins from my side of the family.

Saya bangun jam 5 seperti biasanya, alarm tubuh saya akhirnya kembali ke waktu normalnya! Selama 2 minggu terakhir setelah kembali saya masih bangun jam 4 pagi, meskipun jet-lag saya sudah hilang. Agak terlalu dini. Saya selalu tidur lebih awal, sekitar jam 9:30 atau 10 malam, kecuali tadi malam, yang mungkin sekitar jam 11 malam. Kami pulang agak telat dari rumah adik laki-laki saya, kami sampai di rumah sekitar jam 10.30. Kami memiliki waktu keluarga yang berkualitas: kemarin adalah kelulusan online saudara laki-laki saya. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan masternya, dan menerima gelar MARS (Magister Administasi Rumah Sakit) untuk mengikuti gelar dokter giginya (drg). Karena ia memiliki klinik dokter gigi sendiri, adik laki-laki saya yang-sudah-tidak-kecil-lagi ingin menguasai manajemen rumah sakit, sehingga dia bisa fokus mengelola kliniknya yang ia mulai bangun dari nol. Selain itu, salah satu alasan utama dia mengambil gelar MARS adalah karena dia ingin memiliki setidaknya satu gelar almarhum ayah kami - almarhum ayah kami adalah seorang dokter. Hal lainnya adalah dia juga mendapat cum-laude lagi, sama seperti ayah kami. Maaf, apabila ini terkesan agak pamer. Saya adalah bukan siapa-siapa selain kakak perempuan yang bangga! Sangat bahagia untuknya! Di sisi lain, Izzy juga sangat senang, karena dia bisa bertemu dan bermain dengan semua sepupunya dari sisi keluarga saya.

Izzy and her cousins

Anyway, that was a rare moment for us, to be able to get together, especially during the pandemic. We have been busy, my brother is always the busiest, because he works so hard almost every day, plus we all have our own family, and live in different areas. Most of us are living in Jakarta, yet my brother (the 3rd child) lives in Central Jakarta, my first younger sister (2nd child) lives in North Jakarta, and I live in South Jakarta, my other two little sisters (4th & 5th) live in another country and another city. Bunda (our mom) lives in Southeast Sulawesi, she took a day off of work and flew to Jakarta on Friday. My late dad (as some of you already know) lives in a different world, huffh. Speaking of my dad, tomorrow, Nov 16, 11 years ago (2009), was the day when my dad passed away. We always miss him badly, and I wish he was still alive so he could be here with us, playing with his 4 grand children, telling stories, as he was always the great story teller and walking encyclopedia. My other younger sister has also finished her masters a couple months ago, our youngest sister completed her bachelor degree last month, we have one more (soon-to-be) doctor in the family that follows our dad’s footsteps. My first younger sister who is a doctor is also planning to continue her study as an internist. I cannot be prouder of my brother and sisters. I’m very proud of our mom, as a single fighter she has been so strong and working so hard, as our dad passed away when we were all technically still studying. It wasn’t easy for us, especially our mom. We are so grateful that we could finish our degree, let alone to continue to masters. *happy proud tears* Hopefully I will also be able to continue my masters soon. Amen.

Ngomong-ngomong, itu adalah momen langka bagi kami, bisa berkumpul, apalagi saat pandemi. Kami selalu sibuk, saudara laki-laki saya selalu yang paling sibuk, karena dia bekerja sangat keras hampir setiap hari, ditambah kami semua memiliki keluarga sendiri, dan tinggal di daerah yang berbeda. Sebagian besar dari kami tinggal di Jakarta, namun adik laki-laki saya (anak ke-3) tinggal di Jakarta Pusat, adik perempuan pertama saya (anak ke-2) tinggal di Jakarta Utara, dan saya tinggal di Jakarta Selatan, dua adik perempuan saya yang lain (ke 4 & 5) tinggal di negara lain dan kota lain. Bunda (ibu kami) tinggal di Sulawesi Tenggara, dia cuti kerja dan terbang ke Jakarta pada hari Jumat. Almarhum ayah saya (seperti yang beberapa dari kamu sudah ketahui) tinggal di dunia yang berbeda, huffh.  Berbicara tentang ayah saya, besok, 16 November, 11 tahun yang lalu (2009), adalah hari ketika ayah saya meninggal dunia. Kami selalu sangat merindukannya, dan saya berharap dia masih hidup sehingga dia bisa berada di sini bersama kami, bermain dengan 4 cucunya, bercerita, karena dia selalu menjadi pendongeng yang hebat dan ensiklopedia berjalan. Adik perempuan saya yang lain juga telah menyelesaikan S2-nya beberapa bulan lalu, adik perempuan kami yang bungsu menyelesaikan S1-nya bulan lalu, kami memiliki satu lagi (segera akan menjadi) dokter dalam keluarga yang mengikuti jejak ayah kami. Adik perempuan pertama saya yang dokter juga sedang berencana untuk melanjutkan studi untuk menjadi dokter spesialis penyakit dalam. Saya tidak bisa lebih bangga dengan saudara laki-laki dan saudara-saudara perempuan saya. Saya sangat bangga dengan ibunda saya, sebagai petarung tunggal, dia sangat kuat dan bekerja sangat keras, karena ayah kami meninggal dunia saat kami semua secara teknis masih belajar. Itu tidak mudah bagi kami, terutama bagi bunda kami. Kami sangat bersyukur bisa menyelesaikan gelar kami, apalagi sampai dapat melanjutkan S2. *air mata bahagia bangga* Semoga saya juga dapat segera melanjutkan S2 saya. Aamiin.

I remember back then, when my dad was still alive, when people asked me what does he did for a living. They always mistakenly thought that my dad had a lot of money, because of who he was, and the position he was in. My dad also had a quite good position in the government, so some people assumed that it’s one of those positions that called ‘wet’ areas, which means it’s an easy area to make money, and my dad’s position was ‘kepala dinas kesehatan’ which is the head of public health office: he was the leader of all the doctors and every hospital in the region where he lived. BUT he wasn’t ever financially rich, although he was definitely rich at heart though. I would say that, financially, it was enough, but we were never rich. My Dad was one of the most modest, humble and honest people I know, and he always put education first in our family. He worked so hard so he could see us study and pursue our goals. Our dad and mom always put us before themselves, and they always tried their best raising us, but we were not spoilt. We were taught to save up our money, even if we wanted to buy toys or something. I mean, if my dad wanted to be corrupt, his position back then could have made him rich, but he wouldn’t do that. Both of my parents live(d) their lives with integrity. Money is indeed important, but money is not everything for us. My Dad never bought us personal cars like most of his friends do to their kids - he wanted us to take public transportation, and buy our own cars when we could afford them. He only wanted to spend a lot of money on books, computers, or anything that could help us to excell our skills, etc. Anything that could make us learn and improve. He gave us education, as he believed it is a great weapon for us in order to pursue our goals in the future. I’m proud and grateful of how my parents raised me and my siblings. They taught us to love each other, support each other, to work hard and pursue our goals, however being honest and grateful are also the most important elements in the characther building. The most ‘fancy’ things my dad bought us were game consoles, laptops, PC, and the newest phones. However, they were more like achievements when we got high scores or when we made him proud of what we achieved.

Saya ingat saat itu, ketika ayah saya masih hidup, ketika orang-orang bertanya kepada saya apa pekerjaannya. Mereka selalu salah mengira bahwa ayah saya memiliki banyak uang, karena siapa dia, dan posisinya saat itu. Ayah saya juga memiliki posisi yang cukup baik di pemerintahan, jadi beberapa orang berasumsi bahwa posisi itu adalah salah satu posisi yang disebut area ‘basah’, yang berarti area yang mudah menghasilkan uang, dan posisi ayah saya adalah kepala dinas kesehatan: dia adalah pemimpin dari semua dokter dan setiap rumah sakit di daerah dimana dia tinggal. TAPI dia tidak pernah kaya secara finansial, meskipun dia benar-benar kaya di hati. Menurut saya, secara finansial, waktu itu kami berkecukupan, tetapi kami tidak pernah kaya. Ayah saya adalah salah satu orang yang paling sederhana, rendah hati dan jujur ​​yang saya kenal, dan dia selalu mengutamakan pendidikan untuk keluarga kami. Dia bekerja sangat keras sehingga dia dapat melihat kami belajar dan mengejar cita-cita kami. Ayah dan bunda kami selalu mengutamakan kami, dan mereka selalu mencoba memberikan yang terbaik saat membesarkan kami, tetapi kami tidak dimanjakan. Kami diajari untuk menabung, bahkan jika kami ingin membeli mainan atau sesuatu. Maksud saya, jika ayah saya ingin korupsi, posisinya saat itu bisa membuatnya kaya, tetapi dia tidak akan melakukannya. Kedua orang tua saya menjalani kehidupan mereka dengan integritas. Uang memang penting, tapi uang bukanlah segalanya bagi kami. Ayah saya tidak pernah membelikan kami mobil pribadi seperti yang dilakukan kebanyakan temannya kepada anak-anak mereka - dia ingin kami naik transportasi umum, dan membeli mobil kami sendiri jika kami mampu membelinya. Dia hanya ingin menggunakan banyak uang untuk buku-buku, komputer, atau apapun yang dapat membantu kami untuk meningkatkan kemampuan kami, dll. Apa pun yang dapat membuat kami belajar dan berkembang. Dia memberi kami pendidikan, karena dia percaya itu adalah senjata hebat bagi kami untuk mengejar tujuan kami di masa depan. Saya bangga dan bersyukur atas cara orang tua membesarkan saya dan saudara-saudara saya. Mereka mengajari kami untuk mencintai satu sama lain, saling mendukung, bekerja keras dan mengejar tujuan kami, namun jujur ​​dan bersyukur juga merupakan elemen terpenting dalam pembentukan karakter. Barang-barang paling mewah yang dibelikan ayah saya untuk kami adalah konsol game, laptop, PC, dan ponsel terbaru. Namun, itu lebih seperti prestasi ketika kita mendapat nilai tinggi atau ketika kita membuatnya bangga dengan apa yang kita raih.

All of us still have so many dreams to pursue. I’m so beyond blessed that my family are always there, we truly love each other, and always sincerely support one another, because family always comes first. I hope Bunda (mom), my siblings, and my in-laws always have this great relationship until we’re old, as well as our kids. I’m sure Ayah (dad) is smiling from above. :)

Kami semua masih memiliki begitu banyak impian untuk dikejar. Saya sangat diberkati karena keluarga saya selalu ada, kami benar-benar saling mencintai, dan selalu dengan tulus mendukung satu sama lain, karena keluarga selalu diutamakan. Semoga bunda, adik-adik saya, dan ipar selalu memiliki hubungan yang baik ini sampai kita tua, begitu juga dengan anak-anak kita. Saya yakin ayah tersenyum dari atas. :)

Comments